⠀
Tak lama, enam guru bersiap menuju tempat mengajar. Jaraknya memang hanya 3,5 kilometer. Namun, mereka harus melewati bukit, pematang sawah, kebun, dan tiga kali menyeberang sungai selebar 20 meter. Hal itu dilakukan agar 17 murid mereka bisa mendapat pendidikan.
Setelah memastikan semua guru tiba, Purwandi (46), kepala sekolah, mencopot sepatu lalu melipat celana panjang sampai lutut, diikuti rekan guru lain, Agus Subekti (55), Trisno (54), dan Sucipto (36). Sementara dua guru perempuan, Laila Maulida (35) dan Nurmala Sari (26), mengganti rok dengan celana panjang.
⠀
"Kami harus berangkat bersama-sama di musim hujan. Saat melewati sungai, harus ada teman yang mengecek pijakan yang akan dilewati. Selain arus deras, kedalaman sungai berbeda-beda," kata Agus di awal perjalanan.
Perjalanan menuju sekolah dilanjutkan melewati pematang sawah. Beberapa saat kemudian bertemu dengan sungai kedua.
Tidak seperti sungai pertama yang didominasi bebatuan, sungai kedua berisi bebatuan dan pasir. Selain menjaga agar tidak terpeleset, langkah kaki menjadi berat oleh arus air dan pasir.
Setelah melewati hutan jati yang lebat, mereka kembali menyeberang sungai lagi sebelum tiba di sekolah. Total perjalanan satu setengah jam berjalan kaki.
Waktu menunjukkan pukul 08.00. Para siswa telah menunggu guru mereka di ujung jalan dusun. "Gurunya datang, gurunya datang!" siswa berteriak kegirangan.
Mereka pun berhamburan menyambut kedatangan guru yang masih basah. Mereka menyapa dengan tos dan cium tangan.
⠀
"Ini yang membuat semua rasa lelah hilang, disambut oleh para siswa di ujung jalan. Kedatangan kami benar-benar diharapkan oleh mereka," kata Sucipto setiba di sekolah.
Sementara itu, Agus Subekti yang baru pindah mengajar sejak 2012 di sekolah itu menuturkan, perjuangan menuju sekolah adalah salah satu bentuk pengabdiannya.
Guru yang menerima surat keputusan pengangkatan pada 1 Januari 1982 itu ingat betul klausul surat pengangkatan, yakni siap ditempatkan di seluruh Indonesia. (Source: Kompas)
0 Comments
Post a Comment