Baca Juga

SUWUK KENDEL PAK KYAI
Kisah yang hilang dalam perjuangan

Gelombang pengiriman pemuda pejuang ke Surabaya terjadi setelah keluarnya Resolusi Jihad. Para pemuda Mojokerto terlibat dalam pertarungan fisik palagan Surabaya. Mayoritas para pejuang itu telah diberi suwuk kendel para Kyai.
Dalam kisah perjuangan Mojokerto, kita mengenal nama Kyai Nawawi sebagai sosok linuwih. Beliau dikatakan kebal peluru sehingga lawan membunuhnya dengan cara ditusuk bayonet. Issunya, ada pengkhianat yang membocorkan pengapesan Kyai Nawawi pada NICA. Semasa hidupnya, ulama NU berperawakan kecil itu banyak membekali pejuang dengan berbagai macam piandel yang bisa membangkitkan keberanian.
Pengiriman pemuda Hizbullah ke Surabaya dikoordinir oleh Moenasir Mojosari. Mereka berangkat kebanyakan hanya membawa senjata tajam saja. Hanya sedikit yang membekali diri dengan senjata api. Sebelum berangkat para pemuda itu terlebih dulu dibaiat untuk siap gugur sebagai syuhada. Secara berkelompok mereka mendatangi rumah para kyai yang diingini. Selanjutnya Kyai "menyuwuk" dan membaiatnya.
Menurut Abah Sholeh Hasyim, ada beberapa Kyai yang dimintai suwuk. Selain Kyai Nawawi yang menyuwuk dengan piandel kain bertuliskan rajah, ada juga nama Kyai Zahid Sinoman dan Mbah Ilyas Sasap. Mereka bertiga yang banyak dimintai suwuk selain beberapa Kyai lainnya.
Kyai Zahid dan Mbah Ilyas adalah sosok yang unik alias nyeleneh. Mereka berdua sering meminta sumbangan dan memberikan hasil minta-minta itu pada orang lain. Orang yang dimintai uang atau barang dengan senang hati memberi karena setelah memberi mereka mendapat rejeki yang lebih pada hari itu. Kyai Zahid wafat tanpa meninggalkan keluarga sebab tidak pernah menikah. Sedangkan Mbah Ilyas adalah ayah dari Kyai Khusen, Rois Syuriah NU Kabupaten Mojokerto saat ini.
Metode suwuk yang dilakukan Kyai Zahid dengan memberi minuman pada pemuda yang datang padanya. Sementara Mbah Ilyas memberi ilmu kebal dengan cara menuliskan rajah pada punggung. Satu persatu pejuang diminta tidur tengkurap tanpa baju. Dengan tangannya sendiri Mbah Ilyas menuliskan rajah bertinta minyak di kulit punggung. Karena dilakukan sendiri maka metode suwuk Mbah Ilyas cukup memakan waktu dibandingkan metode Kyai Nawawi dan Kyai Zahid.
Para pemuda pejuang yang datang ke Kyai bukan hanya mereka yang berasal dari Hizbullah. Anggota kelompok lainnya seperti, BPRI Cabang Mojokerto juga ikut minta suwuk Kyai. Dengan suwuk itulah timbul keyakinan akan mendapatkan keselamatan dalam pertempuran.
Kontribusi para kyai seperti itu memang luput dari catatan. Namun diakui atau tidak, ilmu suwuk ikut berperan dalam perang kemerdekaan. Sekelumit kisah suwuk Kyai itu seperti yang dituturkan H. Sholeh Hasyim, pelaku zaman perjuangan.