Baca Juga
Oleh Teh Ninih Muthmainnah
“Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api
neraka ...”
(QS At-Tahrîm, 66:6)
Tiada yang paling membahagiakan
sepasang suami istri selain dikaruniai keturunan. Inilah hadiah terindah dari
Yang Mahakuasa. Hadirnya si buah hati menjadi pertanda kalau Allah Ta’ala
mempercayai mereka untuk mengemban amanah sebagai orangtua.
Maka, bertobatlah apabila kita
banyak menyia-nyiakan mereka. Bagaimana tidak, pada saat bersamaan ada banyak
pasangan yang amat mendambakan kehadiran anak dalam biduk rumahtangganya.
Sangat naif kalau kita sampai tidak mensyukuri kehadiran mereka.
Anak adalah amanah yang harus
dididik agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka. Setiap orangtua harus
memahami bahwa mendidik anak tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mendidik
anak tidak cukup sekadar teori tanpa terjung langsung untuk mengamalkannya.
Mendidik anak pun memerlukan
keseriusan dan tanggung jawab.
Dan, ada hal yang seringkali dilupakan orangtua. Mendidik anak pada hakikatnya
adalah mendidik diri sendiri agar menjadi sosok yangcerdas, tangguh, dan sabar.
Maka, menjadi orangtua yang optimis, pantang menyerah, dan tidak lemah menjadi
sebuah keharusan. Ada contoh sederhananya. Seorang ibu mengajak anaknya untuk
shalat. Kemudian, anaknya tidak mau. Lalu ibu tersebut mengatakan, ”Ya
sudahlah, terserah kamu. Ibu bosan nyuruh kamu. Tidak nurut terus!” Apabila
pernyataan ini keluar dari mulut kita, berarti kita termasuk orangtua yang
lemah. Ini tidak boleh dibiarkan. Orangtuaharus berusaha agar mampu menjadikan anaknya
sosok yang taat menunaikan shalat.
***
Pada prinsipnya, dan ini sesuai
dengan pengalaman, dalam mendidik anak, kita dapat menggunakan
rumus 3C. C yang pertama adalah
contoh. Keteladanan atau contoh dari orangtua akan sangat berpengaruh dalam membentuk
kepribadian anak.Saya teringat sebuah keluarga yang berhasil mendidik anak-
anaknya. Di keluarga ini, anaknya yang berusia tiga tahun sudah hapal Al-Quran
juz 30 (Juz A’mma) dengan lancar walau belum sempurna melapalkan huruf demi
huruf. Kemudian, setelah berusia 15 tahun, dia telah menghapal seluruh ayat
Al-Quran, yaitu 30 juz. Adapun kakaknya yang masih kuliah di Fakultas
Kedokteran sudahhapal 18 juz.
Apa kunci keberhasilan mendidik
anak dalam keluarga tersebut? Dengan memohon pertolongan
Allah, mereka membimbing,
mendidik, memberi teladan yang baik dengan penuh kesabaran dan
keuletan sejak anak-anak mereka
kecil. Anak (terutama yang masih kecil) secara otomatis akan melihat,
mempelajari, dan meniru kebiasaan orangtuanya. Apabila orangtuanya sering membaca
Al-Quran, anak pun kemungkinan besar akan tertarik untuk membaca Al-Quran.
Mendidik anak dengan kata-kata memang baik. Namun, contoh konkret yang
dilakukan oleh orangtua jauh lebih efektif daripada sekadar kata-kata. Ketika
orangtua menyuruh anak mengaji, sedangkan si ibunya jarang mengaji dan lebih
sering menonton televisi, anak pasti akan “bingung” . Dia akan lebih suka
mengikuti apa yang dilakukan orangtua daripada mengikuti apa yang
diperintahkannya. Ini bukan berarti bahwa nasihat dengan kata-kata itu tidak
penting. Hal yang paling tepat adalah menasihati sambil memberi contoh yang
baik kepada anak-anak. Di sini, dalam memberi keteladanan, orangtua pun harus
memiliki ilmu. Tanpa ilmu, keteladanan kita bisa bermasalah. Orangtua sering
merasa sudah memberi teladan yang baik, padahal keteladanan yang ditampilkan
keliru. Lalu, ilmu apa saja yang wajib dimiliki orangtua?
Yang paling utama adalah ilmu
agama, lalu ilmu- ilmu pendukung, semisal ilmu kesehatan, psikologi dan
perkembangan anak, dan lainnya. Memberi nasihat dan menampakan keteladan dengan
landasan ilmu dipastikan akan lebih dahsyat pengaruhnya dari sekedar menasihati
dan memberi teladan tanpa ilmu. C yang kedua adalah cinta. Mendidik anak harus
disertai cinta dan kasih sayang. Anak bukanlah boneka atau robot. Dia adalah
sosok yang memiliki hati dan akal pikiran. Dan, semua itu hanya bisa disentuh
dengan cinta. Bukankah hati itu akan tersentuh dengan bahasa hati lagi?
Maka, tugas
orangtua bukan sekadar mengenyangkan perut anak dengan makanan
bergizi, memberinya pakaian dan uang jajan, tetapi juga mengisi hatinya dengan
kasih sayang. kedekatan, waktu yang lapang untuk curhat atau sekadar membantu
mengerjakan PR. C yang ketiga adalah communication atau komunikasi. Komunikasi
ini terkait erat dengan cinta, sebagai hadirnya rasa tanggung jawab dan harapan
agar anak kita selamat dunia dan akhirat. Tanggung jawab kepada siapa? Tentu
saja, tanggung jawab kepada Allah. Anak adalah amanah yang kelak harus
dipertanggungjawabkan di hadapan- Nya. Apabila hatinya penuh cinta, komunikasi
dengan anak anak menjadi komunikasi yang dibimbing Allah. Sebagai akibatnya,
bahasa yang disampaikan kepada anak pun, baik bahasa verbal
(lisan) maupun bahasa non verbal
(non lisan), pasti akan penuh dengan kebaikan, jauh dari
merendahkan, tidak kasar, dan
terjaga dari sesuatu yang tidak pantas diucapkan. Ketiga hal ini adalah satu
paket yang tidak terpisahkan. Tidak ada teladan kebaikan apabila tidak ada
cinta. Dan, tidak dikatakan cinta apabila tidak disertai dengan komunikasi yang
baik. ***

0 Comments
Post a Comment