Baca Juga

VAN DER PLAS DAN QUR'AN DIBAKAR
Perlawanan Kyai Mojokerto pada Dewan Islam

Charles Olke Van Der Plas adalah sosok yang dominan dalam pertarungan politik di Jawa Timur. Pria yang lahir di Buitenzorg (Bogor) itu paham betul dengan kondisi sosiologis rakyat Jawa Timur yang religius. Karena itu dia mencoba merangkul ulama demi meluluhkan perlawanan rakyat terhadap Belanda.
Van Der Plas pernah menjadi Gubernur Jawa Timur sebelum Jepang datang. Pengetahuannya tentang agama Islam cukup mumpuni karena disebut pernah belajar pada Sjech Ahmad Soorkaty, pendiri Al Irsyad. Dia juga fasih berbahasa arab. Dengan perawakan tinggi dan bercambang dia kerap berpakaian gamis ala orang Arab. Penguasaannya terhadap bahasa daerah membuatnya mudah berkomunikasi dengan berbagai pihak.
Ketika Jepang berkuasa, Van Der Plas melarikan diri ke Australia. Sebelum pergi mengungsi dia sempat menyusun dan mendanai gerakan perlawanan pada Jepang. Gerakan perlawanan itu sendiri dipimpin oleh Amir Sjarifuddin. Dan Van Der Plas segera kembali ke Jawa setelah Jepang menyerah.
Pada tahun 1947, Van Der Plas diserahi jabatan sebagai ketua Recomba Jawa Timur. Salah satu tujuan Recomba adalah memecah kekuatan perjuangan republik. Karena itu dia segera membentuk Dewan Islam Jawa Timur yang beranggotakan para ulama. Pembentukannya dilakukan dalam sebuah pertemuan yang disebut Konferensi Alim Ulama Jawa Timur di Surabaya pada tanggal 25-26 Desember 1947. Kebanyakan yang hadir adalah ulama yang menjabat sebagai penghulu pada jaman penjajahan Belanda.
Dewan Islam bentukan Van Der Plas itu diketuai oleh Kyai Nur Jasin dari Malang. Pendukung Kyai Nur Jasin kebanyakan dari daerah Besuki dan Madura. Dalam konferensi itu juga diputuskan bahwa para ulama bersedia bekerjasama dengan Belanda untuk memajukan Jawa Timur dan Madura. Kyai Nur Jasin kemudian ditunjuk sebagai penasehat Recomba.
Konferensi Alim Ulama selanjutnya dilaksanakan di Mojokerto pada tanggal 21-23 Pebruari 1947. Kegiatan itu difasilitasi oleh RAA Rekso Amidprodjo, Bupati Mojokerto yang pro-Belanda. Dalam sambutannya, Rekso menyatakan rasa bangga karena Mojokerto dipercaya sebagai tuan rumah konferensi. Dia juga menyinggung tentang perilaku Alim Ulama yang bekerja sama dengan Jepang dulu sebagai Ulama yang melupakan kewajibannya terhadap Tuhan.
Dalam pengarahannya, Van Der Plas sempat memamerkan kemahirannya dengan berpidato menggunakan bahasa Arab. Dia menyebut bahwa Konferensi Alim Ulama adalah sebuah fi'il atau perbuatan nyata yang tergolong perbuatan amal. Karena itu konferensi akan mendapat pertolongan dari Allah.
Sebelum meninggalkan Mojokerto, Van Der Plas memberikan bantuan berupa Al Qur'an. Kitab suci itu selanjutnya dibagikan ke masjid dan musholla di Mojokerto.
Beberapa kisah menyebutkan bila Al Qur'an pemberian Van Der Plas itu kemudian dibakar oleh rakyat Mojokerto. Para Kyai Mojokerto yang bersikap nasionalis republik tidak menginginkan kitab itu ada dan dibaca. Mereka khawatir jika pedoman umat Islam itu terdapat kesalahan ayat karena dicetak oleh penjajah yang tidak suka terhadap Islam.
Untuk itu keluarlah perintah pemusnahan Qur'an Van Der Plas tersebut. Ada yang menyebutkan bahwa perintah pembakaran tersebut dikeluarkan oleh Kyai Wahid Hasyim yang pernah menjadi menteri agama RI yang pertama. Pembakaran Qur'an itu merupakan penolakan terhadap Dewan Islam Jawa Timur dan kembalinya penjajah di Mojokerto.
.
Sumber kang Joehan Mr