Baca Juga
PENGGALIAN KUBURAN KORBAN OESIN
Walikota Mojokerto, R. Soedibjo, menyaksikan
Pertengahan tahun 1964, kota Mojokerto mendadak ramai dibicarakan. Dari kota yang hanya memiliki satu kecamatan itulah pembunuhan berantai diawali. Peristiwa kriminal yang menyeret pelakunya pada hukuman mati untuk pertama kalinya setelah kemerdekaan Indonesia.
Dalam pengakuannya dihadapan penyidik kepolisian, Husein Batfari menyebut perbuatan pertama dilakukan di rumahnya sendiri. Rumah tua di kampung Jagalan gang II itu juga menjadi kuburan bagi korbannya. Dikatakan korban yang dikubur di halaman belakang itu bernama Mustopo, pedagang kulit di Mojokerto.
Pengakuan itu sempat dimuat dalam harian Terompet Masyarakat yang terbit di Surabaya. Koran yang berafiliasi pada PKI tersebut memang gencar memberitakan kejahatan yang dilakukan oleh Husein atau Oesin. Nio Ham Djoe diturunkan oleh redaktur Terompet Masyarakat untuk menelisik alias melakukan reportase investigasi. Hasil penelusuran yang kental dengan kepentingan politik.
Besarnya pemberitaan membuat para pejabat di Jawa Timur turun tangan. Issu politik yang mengkaitkan Oesin dengan GPII atau Masyumi memanaskan suhu politik daerah. Gubernur Wijono kemudian datang sendiri menemui Oesin dalam tahanan di Posek Krian untuk mengklarifikasi. Oesin pun menyatakan bukan anggota GPII dan bahkan tidak mencoblos pada pemilu 1955.
Spekulasi tentang jumlah korban membuat masyarakat menduga di rumah Mojokerto ada kuburan korban. Mungkin puluhan orang yang dibunuh dikebumikan pada halaman belakang rumah tersebut. Laporan dari keluarga yang kehilangan sanak famili terus mengalir ke kantor polisi Krian, Mojokerto dan Surabaya. Pelapor berasal dari berbagai kota.
Tanggal 25 Juni 1964 diputuskan untuk melakukan penggalian pada lokasi yang diakui Husein. Kegiatan membongkar kuburan korban itu disaksikan langsung oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Kohar Harisoemarno. Ikut mendampingi, Kepala Reskrim KIKDA, Kompol Soeprajitno, Kapten Soegardo (Kepala CPM) dan Walikota Mojokerto, R. Soedibjo.
Hasilnya, hanya satu jasad korban ditemukan. Dari hasil otopsi diketahui bahwa korban bernama Jazid bin Mar'ie. Korban meninggal dengan tengkorak pecah karena dihantam halter yang ditemukan disamping jasadnya. Jazid sendiri keturunan Arab yang tinggal di Sepanjang Sidoarjo.
Dimana korban lainnya ? Kebanyakan tubuh korban dibuang di beberapa sungai di sekitar Mojokerto. Biasanya pembuangan mayat itu menggunakan mobil sewaan milik Ali Machboel. Kendaraan berjenis sedan merk Dodge itu dibayar 20 ribu sekali sewa. Harga yang cukup mahal untuk ukuran saat itu.
Setelah penggalian itu selanjutnya rumah disegel dan tertutup untuk umum. Karena belum ada police line, penutupan dilakukan dengan memasang papan bertuliskan pengumuman penutupan. Untuk mengawasi agar tidak dimasuki maka ditunjuk Ali Masruni, seorang petugas jaga yang berasal dari Pemuda Rakyat.
Rumah Husein menjadi tontonan warga yang penasaran. Peristiwa yang disebut Jagal Mojokerto menjadi topik pembicaraan masyarakat. Kota Mojokerto yang sempat dilupakan publik, kembali jadi bahan berita.
0 Comments
Post a Comment