Baca Juga
“... Tuntutlah ilmu dan curahkan seluruh
tenagamu untuknya. Karena, kalau hari ini
kalian adalah kaum yang kerdil, kelak dengan
ilmu itu Allah Ta’ala menjadikan kalian
sebagai pembesar kaum.”
Urwah bin Zubair namanya. Dia
lahir satu tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar Al-Faruq. Ayahnya
bernama Zubair bin Awwam, satu di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk
surga. Adapun ibunya bernama Asma’. Kakek beliau dari jalur ibu adalah Abu
Bakar Ash-Shiddiq,
sang khalifah Rasulullah saw. Nenek dari jalur ayah
andanya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib yang juga bibi Rasulullah saw.
Adapun bibinya adalah Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra. Selagi muda, Urwah dikenal
amat gigih dalam mencari ilmu. Hari-harinya diisi dengan mendatangi dan menimba
ilmu dari para sahabat. Beliau mendatangi rumah-rumah mereka, shalat di
belakang mereka, menghadiri majelis-majelis mereka. Maka, Allah Ta’ala pun
menakdirkannya menjadi seorang ulama besar generasi tabi’in.
Urwah bin Zubair adalah menara
hidayah bagi kaum muslimin. Di antara perhatian terbesarnya adalah mendidik
anak-anaknya dan generasi Islam agar layak menjadi pewaris surga. Tidak
bosan-bosannya dia memberi motivasi kepada kepada mereka untuk bersungguh-sungguh
menuntut ilmu.
Dia berkata, “Wahai putra-putriku, tuntutlah
ilmu dan curahkan seluruh tenagamu untuknya. Karena, kalau hari ini kalian
adalah kaum yang kerdil, kelak dengan ilmu itu Allah menjadikan kalian sebagai pembesar
kaum.” Lalu beliau melanjutkan, “Sungguh menyedihkan, adakah di dunia
ini yang lebih buruk daripada seorang tua yang bodoh?”
Urwan pun menganjurkan mereka agar banyak bersedekah.
Sebab, sedekah adalah “hadiah” dari seorang hamba kepada Rabbnya. “Wahai
anak-anakku, janganlah kalian menghadiahkan kepada Allah dengan apa yang kalian
merasa malu menghadiahkannya kepada para pemimpin kalian, sebab Allah Mahamulia,
Maha Pemurah dan lebih berhak didahulukan dan
diutamakan.”Tidak lupa pula, Urwah mewasiatkan agar
berlemah lembut, bertutur kata yang baik dan berwajah ramah. “Wahai
putra-putriku, tertulis di dalam hikmah,‘Jadikanlah tutur katamu indah dan
wajahmu penuh senyum, sebab hal itu lebih disukai orang daripada
suatu pemberian’.”Jika melihat seseorang condong
pada kemewahan, Urwah akan mengingatkannya kepada Nabi saw. Yang menjalani
hidup dengan sederhana. Muhammad bin Al-Munkadir berkisah, “Aku bertemu dengan
Urwah bin Zubair. Dia menggandeng tanganku dan berkata, ‘Aku pernah menjumpai
ibuku ‘Aisyah ra. lalu beliau berkata, “Wahai anakku, demi Allah,
adakalanya selama 40 hari tak ada api di rumah Rasulullah saw. untuk memasak.”
Maka, aku pun bertanya, “Bagaimana engkau berdua hidup pada masa itu?” Beliau
menjawab, “Dengan kurma dan air.” Sosok mulia ini hidup sampai usia 71
tahun dalam gelimang kebajikan dan ketakwaan. Ketika dirasa ajal telah semakin
dekat dan dia dalam keadaan shaum, keluarganya mendesaknya untuk berbuka.
Namun, Urwah bin Zubair menolak. Mengapa? Sebab, dia menginginkan bisa berbuka
di sisi Allah dengan minuman dari telaga Al-Kautsar. ***
Sumber:
Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Mereka Adalah Para
Tabi’in. Pustaka At-Tibyan.

0 Comments
Post a Comment