Baca Juga
LAYAR TANCAP ALIAS MISBAR
Pengalaman pertama nonton film.
Pengalaman pertama nonton film.
Masih ingatkah kita, kapan pertama kali melihat film "gambar hidup" ? Pada masa lalu hiburan film bioskop merupakan jenis tontonan elit. Karena hanya orang kota yang bisa menikmatinya. Bagi orang desa kesempatan melihat film adalah saat ada layar tancap. Film yang diputar pada sebuah tanah lapang yang akan bubar ketika gerimis datang. Pada awalnya pertunukan gratis itu diinisitifi oleh Jawatan Penerangan yang kemudian ditiru oleh perusahaan sebagai media promosi dan penjualan barangnya.
Ketika usia TK, saya pernah diajak paman nonton layar tancap di lapangan Dinoyo. Pemutaran film yang dilakukan oleh dinas penerangan Kabupaten Mojokerto. Pada saat itu yang diputar adalah film Jepang bergenre action. Seingat saya semacam film Megaloman. Tokohnya bisa berubah jadi raksasa untuk melawan monster yang ingin menguasai bumi.
Berita pemutaran film gratis itu disampaikan pada warga desa sekitar melalui ledang. Sebuah mobil dengan pengeras suara terpasang di atapnya berjalan pelang mengelilingi desa. Dengan berita ledang itu warga yang haus hiburan sudah menyiapkan diri sejak sore hari. Dengan berjalan kaki berbekal tikar mereka menuju lapangan Dinoyo. Tidak lupa membekali diri dengan senter sebagai penerangan jalan ketika pulang. Maklum waktu itu belum ada penerangan jalan dan listrik belum masuk ke desa di kecamatan Jatirejo.
Sesampainya di lapangan langsung tikar digelar pada rumput lapangan. Mereka mencari temoat yang enak untuk menikmati tontonan langka tersebut. Sebelum fim diputar, petugas penerangan naik ke atas mobil yang sudah dimodifikasi menjadi panggung. Mereka berpidato menerangan program pemerintah. Suaranya bisa didengar hingga ke semua sudut lapangan karena dikeraskan lewat corong bermerk Toa. Pidato yang tentu tidak dimengerti oleh anak seusia TK.
Setelah selesai acara pidato, lampu penerangan dimatikan dan film diputar. Pada pertengahan film biasanya proyektor dimatikan dengan alasan untuk proses pendinginan. Kembali petugas melanjutkan orasi sebelum film diputar lagi. Pada malam sekutar jam 9, layar tancap selesai.
Demikianlah perjalanan film layar tancap yang awalnya dipergunakan untuk media sosialisasi pemilu 1955 itu terua berkembang luas. Pertengahan tahun 1970-an pemerintah orde baru masih menggunakan media layar tancap untuk sosialisasi program pembangunan. Film yang diputar kebanyakan adalah film produksi Jepang. Mengapa film Jepang ? Kalau tidak salah waktu itu Jepang sedang gencar berinvestasi di Indonesia. Film Jepang itu sumbangan dari pemerintah Jepang pada RI yang royaltinya sudah di beli. Penetrasi industri Jepang itu nantinya berujung pada meletusnya peristiwa Malari.
Pada tahun 1980-an, pemutaran layar tancap lebih banyak lagi. Bisa jadi bebetapa kali ada pertunjukan gratis dalam seminggunya. Pelakunya bukan lagi pemerintah saja, perusahaan swasta seperti produsen jamu dan rokok juga mengadopsi promosi dengan layar tancap. karena dilakukan ditempat terbuka maka intensitas pertunjukan nyaris tidak ada katika cuaca masuk pada musim penghujan.
Entah karena pengalaman nonton layar tancap di lapangan Dinoyo itu yang membuat nonton film menjadi hobby. Waktu sekolah SD di Brangkal kelas 6, nonton film seolah menjadi agenda mingguan. Uang saku harus disishkan untuk bisa datang ke Gedung Bioskop Brantas pada minggu pagi. Hobby yang terus meningkat saat duduk di bangku SMP. Nonton tidak lagi menunggu hari minggu karena sudah berani pulang malam.
Ketika usia TK, saya pernah diajak paman nonton layar tancap di lapangan Dinoyo. Pemutaran film yang dilakukan oleh dinas penerangan Kabupaten Mojokerto. Pada saat itu yang diputar adalah film Jepang bergenre action. Seingat saya semacam film Megaloman. Tokohnya bisa berubah jadi raksasa untuk melawan monster yang ingin menguasai bumi.
Berita pemutaran film gratis itu disampaikan pada warga desa sekitar melalui ledang. Sebuah mobil dengan pengeras suara terpasang di atapnya berjalan pelang mengelilingi desa. Dengan berita ledang itu warga yang haus hiburan sudah menyiapkan diri sejak sore hari. Dengan berjalan kaki berbekal tikar mereka menuju lapangan Dinoyo. Tidak lupa membekali diri dengan senter sebagai penerangan jalan ketika pulang. Maklum waktu itu belum ada penerangan jalan dan listrik belum masuk ke desa di kecamatan Jatirejo.
Sesampainya di lapangan langsung tikar digelar pada rumput lapangan. Mereka mencari temoat yang enak untuk menikmati tontonan langka tersebut. Sebelum fim diputar, petugas penerangan naik ke atas mobil yang sudah dimodifikasi menjadi panggung. Mereka berpidato menerangan program pemerintah. Suaranya bisa didengar hingga ke semua sudut lapangan karena dikeraskan lewat corong bermerk Toa. Pidato yang tentu tidak dimengerti oleh anak seusia TK.
Setelah selesai acara pidato, lampu penerangan dimatikan dan film diputar. Pada pertengahan film biasanya proyektor dimatikan dengan alasan untuk proses pendinginan. Kembali petugas melanjutkan orasi sebelum film diputar lagi. Pada malam sekutar jam 9, layar tancap selesai.
Demikianlah perjalanan film layar tancap yang awalnya dipergunakan untuk media sosialisasi pemilu 1955 itu terua berkembang luas. Pertengahan tahun 1970-an pemerintah orde baru masih menggunakan media layar tancap untuk sosialisasi program pembangunan. Film yang diputar kebanyakan adalah film produksi Jepang. Mengapa film Jepang ? Kalau tidak salah waktu itu Jepang sedang gencar berinvestasi di Indonesia. Film Jepang itu sumbangan dari pemerintah Jepang pada RI yang royaltinya sudah di beli. Penetrasi industri Jepang itu nantinya berujung pada meletusnya peristiwa Malari.
Pada tahun 1980-an, pemutaran layar tancap lebih banyak lagi. Bisa jadi bebetapa kali ada pertunjukan gratis dalam seminggunya. Pelakunya bukan lagi pemerintah saja, perusahaan swasta seperti produsen jamu dan rokok juga mengadopsi promosi dengan layar tancap. karena dilakukan ditempat terbuka maka intensitas pertunjukan nyaris tidak ada katika cuaca masuk pada musim penghujan.
Entah karena pengalaman nonton layar tancap di lapangan Dinoyo itu yang membuat nonton film menjadi hobby. Waktu sekolah SD di Brangkal kelas 6, nonton film seolah menjadi agenda mingguan. Uang saku harus disishkan untuk bisa datang ke Gedung Bioskop Brantas pada minggu pagi. Hobby yang terus meningkat saat duduk di bangku SMP. Nonton tidak lagi menunggu hari minggu karena sudah berani pulang malam.
0 Comments
Post a Comment