Baca Juga
![]() |
| Photo: Kyai Subhan Suronatan |
Ternyata, kedua pusaka itu tidak diketahui dimana keberadaannya. Keris di dinding lenyap. Surban tidak dItemukan. Pusaka peninggalan Kyai Nawawi lenyap ketika Kyai Subhan wafat tanpa mewasiatkannya.
Pernah, Kyai Nawawi memberikan barang pusaka pada Kyai Subhan. Barang wasiat itu berupa sepotong serban dan sebilah keris. Barang titipan pernah diminta oleh Kyai Achyat Chalimy bila kelak Kyai Subhan wafat. Tetapi pusaka Kyai Nawawi tersebut hilang entah kemana.
Kyai Subhan adalah warga Suronatan yang asalnya dari Sedayu Gresik. Beliau diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1900. Kemudian menetap di Mojokerto karena menikah dengan Amniyah. Perempuan asli Suronatan itu lahir pada tahun 1910.
Pekerjaannya sebagai pedagang tembakau di pasar Terusan. Dagangannya tidak seberapa besar dan biasa dipikul saat dibawa ke pasar. Dua buah besek tergantung pada joran pukulan berisi tembakau rajangan itulah yang menghidupi keluarganya. Secara materi kehidupannya tidak bisa dikatakan berkecukupan, bahkan lebih sering kesulitan makan.
Sebagai pedagang tentu Kyai Subhan menghitung betul pendapatannya dengan kebutuhan konsumsi sehari-hari. Untuk menghemat, beliau memilih membeli gabah dibandingkan dengan membeli bahan pangan dalam bentuk beras. Memang ada kerja tambahan untuk menumbuk gabah atau nutu menjadi beras yang bisa dimasak. Kerja keras dan berhemat itulah yang membuatnya bisa menunaikan ibadah haji.
Di kampung Suronatan, Kyai Subhan bergaul erat dengan Kyai Zainal Alim, Rois Syuriah NU Mojokerto. Kedekatan yang bukan saja karena berdekatan rumah, tetapi lebih karena sama-sama dari Gresik. Karena itu beliau juga ikut aktif di jam'iyah yang baru berdiri itu. Keterlibatan di NU yang selanjutnya mendekatkannya pada pengurus NU lainnya seperti, Kyai Nawawi yang menjadi wakil Kyai Zainal Alim.
Ketika Jepang datang menguasai Indonesia dibuatlah larangan mengadakan rapat atau pertemuan. Jepang juga membubarkan organisasi yang dibentuk pada jaman penjajahan Belanda, tidak terkecuali jam'iyah NU. Namun NU Mojokerto mensiasati pelarangan tersebut dengan cerdik. Kyai Nawawi tetap menjalankan kegiatan kultural seperti shalawatan dan diba'an. Dalih yang dipakai dengan menyamakan kegiatan itu sebagai kegiatan budaya dan kesenian yang memang tidak dilarang oleh Tentara Jepang. Demikian cara yang ditempuh para Kyai NU untuk menjaga eksistensi organisasi.
Pada suatu hari, Kyai Subhan dipanggil oleh Kyai Nawawi ke kediamannya. Inti dari panggilan itu ternyata Kyai Subhan dipasrahi menjaga dua buah barang. Satu berbentuk keris dan lainnya berupa surban. Tidak disebutkan apa maksud pemberian itu, tetapi banyak orang menyebut kedua barang itu sebagai pusaka Kyai Nawawi.
Seiring berjalannya waktu, satu persatu maksud pemberian pusaka itu terbuka. Tidak lama setelah itu Jepang kalah dan mulailah masa perjuangan revolusi. Kyai Subhan ikut dalam barisan ulama yang dinamakan Lasykar Hizbullah Mojokerto uang dipimpin oleh Kyai Nawawi yang didampingi kyai muda, Achyat Chalimy. Keris pusaka itu selalu dibawa Kyai Subhan ketika maju ke medan laga.
Rahasia kedua berupa surban adalah sebuah tanggung jawab untuk menjadi pendidik dan imam. Kyai Subhan kemudian ditunjuk sebagai pengganti imam di langgar milik Kyai Zainal Alim. Pada saat wafat Kyai Zainal Alim tidak memiliki keturunan, oleh karenanya pengelolaan langgar diserahkan pada Kyai Subhan. Tugas mengajar ngaji di langgar itu kelangsungannya juga menjadi tanggung jawabnya.
Keberadaan pusaka Kyai Nawawi tetap dijaganya. Keris sudah tidak lagi digunakan karena perang kemerdekaan selesai. Oleh Kyai Subhan keris itu diletakkannya di dinding ruang tamunya. Sementara surban tetap dipakai saat melaksanakan tugas menjadi imam sholat rawatib di masjid Jami' Kauman.
Setelah Kyai Subhan wafat, Kyai Achyat Chalimy sempat menanyakan keberadaan pusaka Kyai Nawawi. Kyai Achyat minta pada keluarga almarhum agar pusaka itu bisa diminta untuk dirawat. Permintaan itu tentu diluluskan karena Kyai Achyat adalah sosok yang dihormati almarhum Kyai Subhan. Keluarga akan menyerahkan setelah kedua pusaka tersebut didapatkan.
.
.
Sumber : Kang Yuhan
.
.
Sumber : Kang Yuhan

0 Comments
Post a Comment