Baca Juga

Ada satu kurun waktu dimana media massa menjadi senjata dan pemogokan merupakan alat perlawanan. Zaman penuh dengan selebaran berseliweran mengaduk kebenaran. Dan Mojokerto pun terimbas reaksi.
Tahun 1990, Takashi Shiraisi mengeluarkan buku berjudul An Age In Motion atau Zaman Bergerak. Karya tulis hasil penelitiannya tentang kondisi rakyat Jawa pada jaman penjajahan Belanda di paruh kedua abad 20. Dia menyebutnya sebagai jaman radikalisme rakyat tanah jajahan. Gerakan radikal yang berpusat di Surakarta-Jogja-Semarang, segitiga di tengah pulau Jawa.
Babak baru terjadi saat kekuatan Sarikat Islam (SI) begitu dominan. Organisasi yang awalnya berorientasi pada penyatuan pedagang Islam untuk melawan kekuatan para pedagang China tersebut mulai menyuarakan kata "Merdeka". Maka orang yang telah bosan dijajahpun serentak mengikutinya. Organisasi sayap yang bernama PFB yang beranggotakan buruh pabrik didirikan dibawah pimpinan Soeyopranoto. Buruh kereta api bersatu dalam VSTP yang dipimpin Semaoen.
Sementara itu, di Mojokerto tidak mau kalah. Para pegawai negeri di Departemen Pekerjaan Umum atau Burgerlijke Openbare Worken (BOW) atas prakarsa RP Soeroso mendirikan VIPBOW. Organisasi Ambtenaar pribumi itu kemudian menjalar ke daerah lainnya di Jawa.
Meskipun telah mendirikan VIPBOW, RP Soeroso dalam gerakan buruh lebih terkenal sebagai ketua PFB. Keterlibatannya di PFB tampaknya seiring dengan aktivitasnya dalam SI. Dia dipilih sebagai ketua SI Mojokerto. Karena Mojokerto merupakan salah satu basis industri gula maka PFB yang berpusat di Jogja itu cepat berkembang di Mojokerto.
Tahun 1921, RP Soeroso menggerakkan pemogokan buruh di seluruh pabrik gula yang ada di Mojokerto. Sekitar 20 ribu orang terlibat dalam pemogokan. Tidak ayal, gerakan berhenti bekerja itu membuat produksi gula macet total. Komoditi gula yang memiliki harga bagus di pasar Eropa terguncang. Kerugian besar jelas dialami oleh para taipan gula.
Berita pemogokan menjadi issu menarik buat media massa saat itu. Koran pribumi yang diterbitkan SI memberi porsi besar pada halamannya. Informasi pemogokan cepat tersebar dan memperoleh dukungan. Buruh daerah lain yang tidak ikut mogok memberi sumbangan dana untuk meringankan beban kawannya ketika kehilangan penghasilan saat pemogokan berlangsung.
Pemogokan PFB di Monokerto bukan hanya dilakukan oleh anggotanya yang bekerja di pabrik gula saja. Para petani tebu juga ikut mendukung gerakan berhenti bekerja itu. Petani Mojokerto memang mengalami kesengsaraan akibat eksploitasi pabrik yang dilindungi gubernement itu.
Gerakan mogok PFB itu merupakan gerakan terstruktur karena dikreasi dari pusatnya. Ketua PFB, Soerjopranoto kemudian dijuluki sebagai "Raja Mogok". Julukan yang disematkan karena kemampuannya memerintahkan pemogokan PFB di hampir semua daerah.
Pemogokan buruh pabrik gula di Mojokerto memang tidak sebesar yang dilakukan di Solo. Rupanya energi PFB Mojokerto cepat terkuras sehingga pemogokan berkahir tanpa gejolak sosial berarti. Setalahnya, mesin-mesin pabrik kembali berputar kembali.
Rupanya gerakan singkat itu mengilhami rakyat Mojokerto untuk berani melawan. Sikap radikal pada kolonial itu terjadi pada gerakan perlawanan Pak Djebrak tahun 1923 dan Moerakat ditahun selanjutnya.
Tentang pemogokan buruh pabrik gula di Mojokerto