Baca Juga

#MojokertoKotaPejuang
PESAN TERAKHIR OESIN BATFARI
============================
Tengah malam, Oesin dibangunkan dari tidur lelapnya. Dengan kendaraan polisi dia dibawa ke pantai Kenjeran. Di tempat itulah lelaki kelahiran Krian itu mengakhiri hidupnya. Kematian yang sudah 11 tahun tertunda.
Perbuatan kriminal yang dilakukan Oesin, nama lengkapnya Hoesin bin Umar Batfari sempat menggemparkan Indonesia. Bagaimana tidak, puluhan nyawa sudah dia hilangkan dibeberapa tempat untuk menguasai harta korbannya. Dalam melaksanakan aksinya dia dibantu oleh adiknya, Mamak dan kawannya, Andi Iteng.
Dalam proses pengadilan, Oesin sebagai otak kriminal dijatuhi hukuman mati. Sebelum eksekusi mati dilaksanakan dia dimasukkan ke tahanan Kalisosok. Dalam jeruji penjara itu dia menghabiskan hari hingga waktu kematiannya datang.
Dalam penjara itu Oesin benar-benar menyesali perbuatannya. Bukan hanya menyesal karena puluhan nyawa yang dibunuhnya di rumahnya di Jagalan Mojokerto, ada pula yang dihabisi di Seduri pada rumah yang disewanya. Oesin juga menyesali karena menelantarkan anak dan istrinya, Rafiah. Selama dalam penjara Oesin melarang Rafiah membawa anaknya saat membesuk dirinya. Oesin tidak ingin anaknya tahu bila ayahnya adalah pembunuh yang dikecam banyak orang. Dikecam sebab mencabut nyawa sesama secara kejam.
Hari-hari panjang dilalui Oesin hingga tanggal 14 Juli 1978. Malam itu dia tahu akan menjadi malam terakhirnya di dunia. Beberapa waktu lalu petugas penjara memberi tahu bila eksekusi mati telah disiapkan untuknya. Malam itu Oesin tidak ingin terbebani, dia tidur dengan nyenyaknya. Sampai kemudian dia dibawa ke Pantai Kenjeran.
Ketika turun dari mobil jemputan, Oesin melihat satu regu polisi dengan senapan siap berjajar. Polisi itu berasal dari Kodak X Jawa Timur yang telah ditunjuk sebagai eksekutornya. Dirinya digiring ke arah tonggak kayu yang menancap pada tanah pasir pantai Kenjeran. Pada kayu itu kedua tangannya diikat ke belakang.
Sebelum aba-aba kematian diteriakkan, Oesin sempat berdoa. Seorang Kiai menuntunnya untuk meminta ampun atas segala dosa yang telah dilakukannya. Bimbingan doa yang membuat hati Oesin kian tenang menerima takdir hidupnya. Pada Kiai itu Oesin menitipkan pesan terakhirnya, "Tolong dijaga adik saya, Mamak," ucapnya lirih.
Sampai akhir hayatnya, Oesin ingat pada adiknya. Adik yang ikut bekerja dengannya setelah kematian ayahnya. Berdua mereka menghidupi keluarganya masing-masing dengan menjadi jagal kambing. Hingga kemudian Oesin menempuh jalan pintas dengan serangkaian pembunuhan. Mamak sendiri divonis 20 tahun penjara.
Dengan mata tertutup kain hitam Oesin menerima terjangan peluru. Butir panas timah menembus tubuhnya. Tidak lama kemudian tubuh tinggi keturunan Arab itu merosot dengan kepala lunglai. Oesin dinyatakan meninggal oleh dokter yang memeriksa.
Menjelang pagi, upacara eksekusi itu selesai. Semua orang mengemasi semua peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan hukuman mati. Hukuman mati pertama kali dijatuhkan pada pelaku kriminal di Indonesia. Jasad Oesin dibawa dalam ambulan yang sudah disiapkan. Kuburannya pun dirahasiakan.