Baca Juga

Entah sudah berapa lama tidak pernah naik ke Padusan. Baru hari ini sempat naik lagi ke lokasi tempat pemandian air panas tersebut. Dan seperti biasanya saat hari Sabtu, banyak pengunjung datang kesana. Sepertinya ada profesi baru yang dilakoni beberapa lelaki di sekitar Padusan itu. Pekerjaan jasa menawarkan kamar villa.
Belok ke barat dari perempatan Pacet, maka akan banyak kita lihat motor terparkir di tepi jalan. Ada seorang pria duduk di jok kendaraannya. Mata mereka mengawasi motor dan mobil yang naik atau turun dari Padusan. Bila ada pengendara itu adalah pasangan laki-laki dan perempuan, maka dengan sigap mereka teriakkan, "Villa....villa ..!". Tidak lupa tangan mereka angkat dan melambai pada pasangan itu.
Sebagai tempat peristirahatan, Pacet sudah terkenal sejak jaman penjajahan. Para pemodal di Mojokerto dan Surabaya banyak mendirikan villa disana. Komplek peristirahatan juga dibuat oleh Pabrik Gula Sentanen Lor milik Meneer Eschauzier. Penginapan itu dilengkapi dengan lapangan tenis dan fasilitas lainnya.
Pada jaman revolusi, Villa milik orang asing itu diduduki oleh para pejuang. Beberapa markas menggunakan villa tersebut. Salah satunya adalah kesatuan Polisi Militer TKR yang dipimpin Mayor Sabarudin. Ada pula yang dijadikan lokasi tempat pendidikan Polisi pimpinan Soetjipto Danoekoesoemo.
Pacet terus berevolusi mengikuti jaman. Kondisi alam disana cocok untuk tempat peristirahatan dan pertanian. Yang terkenal dari Pacet adalah ketela ungu yang memiliki rasa manis. Kini lahannya mulai menyempit dan banyak dijual pada orang luar Pacet. Lalu situasi pun terasa berbeda.
Akh, sudah sebegitunya Pacet ini. Lokasi berhawa sejuk itu sudah banyak berubah. Sawah-sawah satu persatu sudah berganti fungsi menjadi villa. Bangunan penginapan yang jelas bukan milik orang sekitar. Petani yang dulu menjadi profesi tidak lagi digeluti seiring berubahnya lahan pertanian.
Sebagian dari penduduknya beralih kerja menjadi penjaga Villa di desanya. Awalnya tidak lebih dari kerjaan sampingan setelah pulang dari lahan sawahnya. Pendapatan bulanan mereka dapatkan sebagai income tambahan. Namun setelah kebutuhan akan penginapan semakin tinggi, para penjaga villa itu melihat peluang baru. Profesi penjaja villa.
Sempitnya lapangan kerja selalu disikapi dengan berbagai cara. Sama dengan profesi polisi cepek yang ada di sekitar kota Mojokerto adalah buah dari terbatasnya peluang kerja. Semakin tidak mampu pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan tentu profesi informal akan tumbuh menjamur. Termasuk pekerjaan sebagai penjaja villa.
Maka tidak lama lagi Pacet akan sama seperti Tretes di Pasuruan. Satu hal sudah dikloning oleh warga sekitar Padusan. Entah siapa yang memulai, fakta itu sudah terjadi.(*)