Baca Juga
Gunung Penanggungan merupakan lokasi favorit pendaki Jawa Timur. Memiliki ketinggian sedang sehingga pendaki pemula pun bisa mencapai puncaknya. Pada masa lalu gunung yang dianggap suci itu dinamakan gunung Pawitra yang artinya suci. Sejak kapan nama itu berubah menjadi Penanggungan ?
Nama Pawitra yang paling tua diketemukan pada Prasasti Cunggrang. Tulisan pada batu itu dibuat pada masa pemerintahan Mpu Sindok pada tahun 851 caka atau 929 Masehi. Tertulis disana bahwa Cunggrang ditetapkan sebagai desa Perdikan karena terdapat tempat pertapaan yang dinamakan Dharmasrama ing Pawitra. Disamping itu juga terdapat sumber air yang dinamakan Sang Hyang Tirtha pancuran ing Pawitra. Sumber air itu diyakini saat ini adalah candi Belahan.
Dalam kitab Negarakertagama juga tertulis akan adanya pertapaan di lereng Gunung Pawitra tersebut. Disebutkan bahwa Prabu Hayam Wuruk melakukan perjalanan spiritual ke beberapa tempat. Dari Jajawi atau candi Jawi, Hayam Wuruk menuju desa Pamadeyan. Dia berhenti di Cunggrang untuk melihat pemandangan hutan yang rindang. Kemudian menuju asrama para pertapa di lereng gunung Pawitra yang lokasinya menghadap ke jurang. Mulut jurang yang menganga seolah ingin menelan orang yang memandangnya.
Berita tentang Pawitra juga disebut dalam Kidung Tantu Pagelaran yang ditulis dalam bahasa Kawi atau Jawa kuno. Dimungkinkan kitab itu ditulis pada masa kerajaan Majapahit. Kitab itu berisi cerita-cerita rakyat, salah satunya adalah cerita terbentuknya gunung Pawitra yang merupakan penggagalan puncak gunung Mahameru di India. Pemindahan gunung itu untuk memberi beban pemberat pada pulau Jawa yang posisinya terombang-ambing di lautan.
Nama Pawitra juga masih dipakai dalam kisah perjalanan Bujangga Manik. Dia adalah seorang pangeran kerajaan Pajajaran yang mengembara hingga ke Bali. Setelah sampai ke Daha dan masuk ke Majapahit, Bujangga Manik naik ke puncak gunung Pawitra. Pada gunung suci itu terdapat banyak biara tempat para pertapa.
Demikianlah, Pawitra selama berabad-abad merupakan tempat suci. Banyak pertapa yang bermukim di sekitar puncaknya. Pawitra semakin ramai ketika Majapahit memudar sebab banyak orang yang mendirikan pemukiman bersama para pertapa. Dari perpindahan itu di Pawitra berkembang peradaban gunung. Budaya yang berbeda dengan kerajaan Majapahit sebelumnya. Bangunan candi terbuat dari susunan batu dan arca yang berbeda bentuk dengan patung buatan seniman kraton.
Untuk melindungi diri dari ekspansi orang luar, maka pemukiman Pawitra membuat benteng di Kutogirang. Benteng itu hancur ketika datang serangan dari Sultan Trenggono, raja Demak. Setelah itu nama Pawitra hilang.
Nama Penanggungan kemudian dikenal sebagai ganti nama Pawitra. Perubahan nama itu kemungkinan terjadi pada kisaran dekade pertengahan abad ke 19. Banyak nama di Jawa yang ganti dengan berdasarkan keputusan pemerintah kolonial. Seperti nama Japan diganti Mojokerto, Banger disebut Probolinggo dan sebagainya. Perubahan itu bukan hanya terjadi pada wilayah, ikut pula dirubah nama sungai dan gunung.
Memang belum ada data yang menyebut perubahan nama Pawitra ke Penanggungan. Tetapi bila melihat trend perubahan maka tentu pada kisaran 1830-an itulah terjadi perubahannya. Penyematan nama Penanggungan yang sama dengan nama salah satu desa di Kecamatan Trawas itu kemungkinan besar karena dari desa Penanggungan itulah jalur yang banyak dipakai untuk naik ke puncak gunung tersebut.
0 Comments
Post a Comment