Baca Juga
DAM PEHNGARON SISA MANISNYA GULA
Bangunan kolonial di Mojokerto
==================================
Bangunan kolonial di Mojokerto
==================================
Sebenarnya, tanpa membangun yang baru hanya merawat yang lama tanah pertanian di Mojokerto sudah bisa terairi secara teknis. Bangunan irigasi peninggalan jaman kolonial tertata rapi namun kini terbengkalai. Salah satunya Dam Pehngaron yang dibangun pada tahun 1911.
Bangunan pembagi air Kali Pikatan yang berhulu di Gunung Welirang itu terletak di dusun Pehngaron Desa Mojogeneng Jatirejo. Pada dindingnya tertulis angka tahun 1911 sebagai tahun Pembangunannya. Dam yang dibuat untuk menaikkan permukaan air sungai agar bisa dialirkan ke wilayah utara. Dari pintu air utamanya bisa mengaliri sekitar 900 hektar sawah yang ada di daerah Jatirejo, Puri hingga Sooko.
Jika dilihat dari tahun pembuatan maka dapat dipastikan Dam Pehngaron dibuat oleh Pabrik Gula Dinoyo. Pabrik gula itu diwajibkan membuat bangunan irigasi sebagai kompensasi sewa lahan perkebunan tebu atau ondernemimg yang dikelolanya. Selain di Pehngaron, dibuat juga bangunan irigasi Candi Limo yang membendung aliran Kali Landean. Dua bangunan itu dipergunakan memasok air baut areal sawah yang disewa pabrik dari rakyat.
Tebu sebagai bahan baku utama gula memang banyak membutuhkan air untuk bisa tumbuh dengan baik. Kendati banyak yang mengatakan bahwa kebutuhan air tanaman tebu itu membuat aliran air ke sawah non tebu berkurang, tetapi jaringan irigasi yang dibuat pabrik milik keluarga Eschauzier tersebut bisa meningkatkan produksi sawah yang pada awalnya tadah hujan.
Aliran air Kali Pikatan tergolong arus deras. Arus air itu menggerus tanah sehingga membentuk alur sungai dengan dinding curam sepanjang alirannya. Permukaan air jauh di bawah tanah sekitarnya. Potensi air yang tidak pernah kering sepanjang tahun itu menjadi sia-sia bila tidak dibendung. Keberadaan dam itulah yang mengubah tanah sawah dari ketergantungannya pada musim menjadi teknis irigasi.
Pabrik gula Dinoyo hanya mampu bertahan selama 20 tahun. Badai resesi yang melanda Eropa memaksa manajemen pabrik menutup produksinya. Setelah resesi berlalu ternyata pabrik gula Dinoyo tidak bisa hidup lagi. Oleh pemiliknya kemudian dijual pada pengusaha Arab dan digunakan untuk pabrik kain.
Karena tidak ada pabrik gula maka konsesi sewa lahan tebu berakhir. Sawah dikembalikan pada pemiliknya lagi. Saluran irigasi dioperasikan pada Kantor Irigasi Mojokerto. Dari saluran air peninggalan PG Dinoyo mampu menjadikan sawah sekitarnya sebagai penghasil tanaman pangan di Mojokerto.
Kini saluran irigasi banyak yang terbengkalai. Jangankan diperbaiki, untuk merawat saja jarang dilakukan. Karena itu potensi Mojokerto sebagai lumbung pangan kemudian menghilang. Irigasi dengan pasokan air adalah nyawa sektor pertanian, jika terabaikan keberadaannya tentu petani tidak bisa produktif lagi.

0 Comments
Post a Comment