Baca Juga
#MojokertoKotaPejuang
"AWAS TAN MALAKA PALSU"
Brosur setelah ditangkap di Mojokerto
==============================
"AWAS TAN MALAKA PALSU"
Brosur setelah ditangkap di Mojokerto
==============================
Persoalan tertangkap atau ditangkap bagi Tan Malaka adalah biasa. Sepanjang hidupnya dia banyak melakukan incoqnito alias hidup dalam penyamaran demi menghindari penangkapan lawan. Tetapi ditangkap oleh polisi bangsa sendiri di Mojokerto membuatnya trenyuh. Peristiwa yang harus diklarifikasi sendiri oleh Tan Malaka.
Sejak meninggalkan Indonesia sebelum meletusnya pemberontakan PKI tahan 1926, Tan Malaka menyembunyikan identitasnya. Pengembaraannya di Eropa, China, Filipina hingga kembali ke Jawa diwarnai dengan pergantian nama. Hingga kemudian "terdampar" di rumah Soebardjo setelah Indonesia merdeka.
Soebardjo yang pernah bersama belajar di negeri Belanda adalah orang pertama yang menyebut nama Tan Malaka. Panggilan yang membuat Tan merasa aneh sebab bertahun-tahun sapaan nama itu tidak didengar telinganya.
Tidak lama di Jakarta, Tan Malaka memutuskan mengembara ke pelosok tanah Jawa. Dia berusaha menghidupkan sel-sel Komunis yang pernah dibinanya. Beberapa tokoh ditemuinya, termasuk Mbah Hasyim di Tebuureng Jombang. Saat menginjakkan kaki di Mojokerto dia ditangkap oleh anak buah Bung Tomo. Beruntung dia dilepaskan kembali oleh Johan Sjahrusyah. Penangkapan itu terjadi sekitar tanggal 10 Nopember 1945. Tanggal 17 hingga 24 Nopember, Tan Malaka sudah ada di Surabaya.
Dari peristiwa itu dia paham bahwa namanya banyak dicatut oleh banyak orang dengan berbagai tujuan. Sebagian diantara orang yang mengaku sebagai "Tan Malaka" merupakan kaki tangan NICA. Tan Malaka palsu itu ada yang ditangkap di Surabaya. Karena itu, Bung Tomo memerintahkan anak buahnya untuk menangkap siapa saja yang mengaku sebagai Tan Malaka.
Memang tidak banyak orang yang kenal Tan Malaka secara langsung. Bung Tomo sendiri juga tidak tahu wajah dan perawakan tokoh yang ditakuti Belanda tersebut. Maklum, Tan pergi ketika para pemuda seangkatan Bung Tomo masih balita.
Setelah dilepaskan dari tahanan polisi Mojokerto, Tan Malaka ikut ke Surabaya. Dia menyaksikan sendiri kegigihan para pemuda melawan tentara Inggris diawal pertempuran Surabaya. Seminggu menjadi saksi sengitnya pertempuran Surabaya, Tan Malaka menyingkir ke Malang. Disana dia menulis brosur berjudul "Muslihat" dengan sedikit menyinggung motif "Tan Malaka Palsu"
"Pertama sekali, saya dengan ini terpaksa menyerukan 'AWAS' terhadap beberapa orang yang menyamar sebagai Tan Malaka. Seorang diantara penyamar itu, sudah saya jumpai di Surabaya. Menurut teman seperjuangan di sana, si penyamar mempunyai beribu-ribu pengikut. Menurut pengakuan si penyamar sendiri, dia sudah lama bekerja buat pemerintah Belanda almarhum. Berhubungan dengan itu, dia sudah banyak mempunyai hubungan dengan orang yang mempunyai kedudukan tinggi di bawah Belanda, diantara Pangreh Praja, dan lain-lain. Apalagi, dengan mereka dari kalangan pergerakan di berbagai tempat yang tertipu mentah-mentah.
Tak perlu disebutkan lagi bahwa Tan Malaka palsu banyak menimbulkan kekalutan di kalangan pergerakan revolusioner umumnya, dan komunis khususnya...... "ungkapnya dalam brosur tersebut.
Penangkapan dirinya di Mojokerto membuat Tan Malaka sadar bahwa dia harus mengakhiri incoqnito-nya. Sejak itu dia selalu mengenalkan identitas aslinya agar tidak dimanfaatkan oleh para pemalsunya.

0 Comments
Post a Comment